Apr 20, 2011

Asal Muasal Tren Warna

Warna, mode dan gaya, tiga hal yang saling berkaitan erat. Mode selalu berubah setiap saat dan sampai kapan pun harus terus berubah. Karena warna merupakan unsur paling penting dalam desain mode, warna pun dengan sendirinya ikut berubah.
Sering kita bertanya-tanya bagaimana warna-warna tertentu bisa serentak membanjiri pasar, dicari dan dikenakan banyak orang, lalu selang beberapa waktu tergantikan warna lain. Kecenderungan warna yang sering berganti ini tidak hanya terlihat dalam busana atau produk mode saja, tapi juga pernak pernik dan dekorasi rumah, peralatan elektronik,  bahkan warna mobil.
Itulah yang dinamakan trend warna, sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan modern sekarang ini. Karena warna bisa menggugah emosi dan suasana hati, menciptakan kesan bahkan menggugah ingatan. Sebagai contoh, kita biasanya lebih sering warna baju seseorang yang baru kita kenal ketimbang warnanya.
Sejak kapan dan dari mana tren warna berasal?
Prediksi warna sudah ada sejak akhir abad ke-19. Negara Prancis lah yang mengeluarkan kecenderungan warna yang ditujukan bagi pabrik tekstil, penyamakan kulit dan mereka yang bergerak dalam industri mode. Isinya tentang warna-warna yang sedang populer di kalangan penjahit baju dan pembuat topi di Paris.
Seiring berjalannya waktu, tren warna tidak lagi didominasi Prancis. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Italia, Jepang termasuk Prancis sendiri umumnya memiliki kelompok yang mengembangkan arahan warna. Mereka menghadiri pertemuan setahun 2 kali untuk menentuka tren warna.
Mereka mengevaluasi warna yang terbilang ‘paling laris’ di pasar atau merencanakan warna yang akan tampil di pasar dalam siklus berikutnya, yang kemudian dikemas dalam bentuk ‘color forecast’ atau prediksi warna yang berlaku 18-24 bulan ke depan.
Diantara para penentu warna, Pantone Inc. memegang peranan cukup besar. Perusahaan yang berbasis di Amerika ini adalah penyedia dan penentu standar global warna untuk industri desain. Setiap tahun Pantone memilih ‘color of the year’ sebagai refleksi zaman, terutama untuk fashion, kosmetik dan produk interior.
Lalu, darimana ide tren warna didapatkan? Jawabannya bisa didapat dari manapun, lewat perjalanan, pengamatan, riset, bacaan hingga diskusi di berbagai bidang kehidupan, diantaranya fashion, gaya hidup, hiburan, seni, teknologi, peristiwa penting dan Poleksosbud.
Industri bahan seperti tekstil, kulit dan plastik merupakan yang paling awal menggunakan tren warna yang dikenalkan lewat ‘Trade Show’ atau pameran dagang khusus bahan di berbagai tempat. Pameran dagang di Paris merupakan yang paling berperan, disusul Frankfurt, Italia dan merambah ke Asia.

Penulis TN di Butik Mode

Apr 19, 2011

Kunjungi aja ya....

ORDER    : (62) 817 439 779
Email        : mutiacreation@gmail.com
Facebook : http://www.facebook.com/mutiayanti.masril?sk=photos
NetLog     : http://en.netlog.com/mutiayanti/blog/blogid=4112356
                  http://en.netlog.com/mutiayanti/blog/blogid=4108643
                  http://en.netlog.com/mutiayanti/blog/blogid=4108288

Miniatures Borobudur Temple from Silver

ORDER : (62) 817 439 779
Email : mutiacreation@gmail.com










Borobudur Temple
Price IDR 410.000 + shipping cost
Code SIL 015
Size W/L/H = 13/13/6,5 cm















Borobudur Temple
Price IDR 470.000 + shipping cost
Code SIL 016
Size W/L/H = 15/15/6,5 cm














Borobudur Temple
Price IDR 1.050.000 + shipping cost
Code SIL 017
Size W/L/H = 21/21/12 cm


Silver is a very ductilemalleable (slightly harder than gold), monovalent coinage metal, with a brilliant white metallic luster that can take a high degree of polish. It has the highest electrical conductivity of all metals, even higher than copper, but its greater cost has prevented it from being widely used in place of copper for electrical purposes. Despite this, 13,540 tons were used in the electromagnets used for enriching uranium during World War II (mainly because of the wartime shortage of copper).[1][2][3] An exception to this is in radio-frequency engineering, particularly at VHF and higher frequencies, where silver plating to improve electrical conductivity of parts, including wires, is widely employed. Another notable exception is in high-end audio cables, where scaling copper conductors by 6% achieves slightly better results.[citation needed]
Among metals, pure silver has the highest thermal conductivity[4] (the nonmetal diamond and superfluid helium II are higher) and one of the highest optical reflectivities.[5] (Aluminium slightly outdoes silver in parts of the visible spectrum, and silver is a poor reflector of ultraviolet light). Silver also has the lowest contact resistance of any metal. Silver halides arephotosensitive and are remarkable for their ability to record a latent image that can later be developed chemically. Silver is stable in pure air and water, buttarnishes when it is exposed to air or water containing ozone or hydrogen sulfide, the latter forming a black layer of silver sulfide which can be cleaned off with dilute hydrochloric acid.[6] The most common oxidation state of silver is +1 (for example, silver nitrate: AgNO3); in addition, +2 compounds (for example, silver(II) fluoride: AgF2) and the less common +3 compounds (for example, potassium tetrafluoroargentate: K[AgF4] ) are known.
Dari Wikipedia



Apr 17, 2011

Ikut Gaya Cina atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?

Anda pernah membaca buku Battle Hymn of the Tiger Mother? Karya Amy Chua ini merupakan best sellertengah yang menjadi perbincangan warga dunia. Dalam memoarnya, ibu dari Sophia (18 tahun) dan Louisa (14 tahun) itu menceritakan kesuksesan serta kesalahan yang dibuatnya dalam mengasuh anak dengan gaya tradisional Cina.

Orang tua Cina memang terkenal otoriter. Kedisiplinan dan kerja keras demi menggapai sukses mereka pertahankan di manapun berada. “Ini menjadi nilai yang diakui bersama oleh warga Cina,” jelas sosiolog Erna Karim.
Di satu sisi, Amy mendapat acungan jempol atas hasil pengasuhannya. Di usia 14 tahun, jemari si sulung, Sophia, lincah menari-nari di atas tuts piano di Carnegie Hall. Sedangkan, adiknya, Louisa memainkan biola tanpa sedikitpun nada sumbang. Seolah memenuhi tuntutan sang bunda, keduanya juga tampil sebagai jagoan akademik.
Kenyataan itu membuat banyak orang—terutama di Amerika—terusik. Standar kesuksesan anak Amy seolah menjadikan mereka sebagai orang tua yang gagal. Di samping itu, mereka menganggap profesor hukum dari Yale University kejam terhadap anak. Sebab, ibu yang menikah dengan pria Yahudi itu mengekang kedua putrinya dari kehidupan sosial. Mereka tak memiliki pengalaman menginap di rumah teman, pergi pesta, atau ikut pementasan drama.
Amy menuntut Sophia dan Louisa meraih nilai sempurna di semua mata pelajaran, kecuali olah raga dan drama. Masing-masing juga harus rutin berlatih alat musik yang dipilihkan sang bunda. Sebegitu kerasnya terhadap anak, Amy bahkan tidak mengizinkan Louisa istirahat sejenak untuk sekadar ke kamar kecil sampai gesekan biolanya merdu memainkan lagu Little White Donkey.
 Erna mengatakan orang Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. “Anak-anak Cina juga terbiasa tidak tergantung pada orang lain dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri.”
Anak-anak Cina juga sejak kecil telah diperkenalkan pada falsafah hidup. Mereka akan berusaha untuk tidak mempermalukan keluarga. “Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar,” komentar psikolog A Kasandra Putranto.
Sementara itu, gaya pengasuhan ala Amerika juga ada plus-minusnya. Orang Amerika lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. “Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya,” cetus Kasandra yang menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta.
Bagaimana dengan Indonesia? Kasandra menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara dua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika. “Lantaran tiap pola asuh memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, kita tidak bisa mengatakan mana yang terbaik.”
Sementara itu, Erna memperhatikan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. “Lantas, pola pengasuhan di desa juga berbeda dengan di perkotaan.”
Masyarakat desa, lanjut Erna, lebih permisif. Orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. “Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.”
Lalu, di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. “Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan,” papar Erna.
Itu sebabnya, orang tua perkotaan sibuk memasukkan anaknya ke berbagai kursus. Terutama, komputer dan bahasa Inggris. “Lalu, kebutuhan otak kanan yang mencakup bidang kesenian juga diakomodasi,” jelas Erna.
Bahan renungan
Untuk mengantarkan anaknya pada keberhasilan, Amy menentukan kegiatan anaknya. Ia berpendapat hingga berusia pra remaja, anak belum dapat secara objektif menilai. Otomatis, mereka harus mengikuti pilihan orang tua.
Terlepas dari kesuksesannya dalam membesarkan anak, Amy mengaku membuat sejumlah kesalahan sepanjang perjalanan. Ia gampang naik darah, kasar dalam perkataan, dan kurang memberikan keleluasaan memilih pada putrinya. Ia juga tak segan memberi hukuman.
Amy memang mengkritik pola asuh Barat yang cenderung lunak pada anak. Ketika anak kehilangan semangat belajar biola, orang tua Barat dengan cepat menawarkan alternatif alat musik lain yang lebih mudah dikuasai. Sebaliknya, Amy justru memberi dukungan agar putrinya makin giat berlatih supaya mahir.
Tidak semua anak Cina sukses diasuh dengan gaya otoriter. Beberapa anak klien keturunan Cina di biro Psychological Practice pimpinan Kasandra tertekan dengan pola asuh seperti itu. “Mereka memilih kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kerasnya didikan orangtua.”
Akankah pencapaian Amy dijadikan barometer oleh sejumlah orang tua? Sosiolog Erna Karim mengatakan pengekor Amy adalah mereka yang tidak mampu mengonstruksi sendiri cara mendisiplinkan anak. “Orang yang terus mengikuti perkembangan zaman namun tak tahu cara pengasuhan lebih terpengaruh dengan buku-buku seperti Tiger Mom ini,” ungkap Erna.

Tantangan Masa Kini
Anak-anak Indonesia masa kini tumbuh dalam fasilitas yang nyaris serba ada. Dengan dukungan ekonomi keluarga yang lebih mapan, mereka mudah mengeksplorasi segala hal. “Dibandingkan dengan lima tahun lalu pun kondisinya sudah berbeda sekali,” ungkap guru Bimbingan Konseling SMP Labschool Kebayoran, Sinthya Bintarti.
Sementara itu, diperkenalkan oleh tayangan TV dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, anak-anak juga mengenal percintaan di usia yang sangat dini. Anak TK bahkan sudah dapat menyatakan kesukaannya pada lawan jenis. “Tentunya dengan presepsi sesuai usianya,” ujar Sinthya.
Dukungan fasilitas serta kondisi lingkungan seperti itu mendatangkan masalah tersendiri bagi anak. Kedekatan mereka dengan gadget dan akses internet membuat mereka teramat tergantung dengan teknologi. “Belum saatnya mereka terlalu mengandalkan gadget,” cetus Sinthya.
Pada usia sekolah, lanjut Sinthya, semestinya anak mencari informasi dari buku bacaan. Mereka harusnya membaca langsung dari sumber primer. Sedangkan, Wikipedia sebetulnya berisi keterangan dari sumber sekunder. ”Kebiasaan mengakses Wiki menurunkan minat baca mereka terhadap buku teks.”
Lantas, anak-anak sekarang juga berani memasuki dunia pergaulan di dunia maya. Padahal, mereka belum sepenuhnya bisa memilah. “Ada bahaya yang mungkin timbul dari pertemanan dengan orang asing di social media,” kata Sinthya.
Selain itu, anak juga terlampau sering terpapar dengan tontonan tidak sehat, seperti sinetron. Tayangan tersebut membuat mereka mudah berkata kasar. “Mereka menganggap berkata kasar merupakan bagian yang biasa dalam pergaulan,” ucap Sinthya.
Di lain sisi, ada komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak. Sering kali, ekspektasi anak terhadap orang tuanya gagal tersampaikan secara utuh. “Anak belum selesai mengutarakan harapannya, ayah ibunya sudah keburu memotong,” kata Sinthya.
Ketika nilai ulangan jelek, misalnya, orang tua tidak mendengar sampai tuntas penyebab versi anak. Padahal, anak membutuhkan dukungan ayah bundanya. “Cobalah untuk menurunkan diri sedikit agar bisa merasakan masalah yang dialami anak,” saran Sinthya.
(Reiny Dwinanda, wartawan Republika)

Apr 16, 2011

Kerudung Lukis Timbul Koleksi Terbaru

ORDER : (62) 817 439 779  
Email : mutiacreation@gmail.com
Price IDR 60.000 + postage
KLT 05
KLT 06
KLT 07
KLT 08





Kerudung Lukis Timbul Koleksi April

ORDER : (62) 817 439 779   Email : mutiacreation@gmail.com
Price IDR 60.000 + postage
KLT 01
KLT 02
KLT 03
KLT 04




search engine optimization
Earn Money ! Affiliate Program
:: THOUGHTS ASIDE ::
How to tackle promoting a website, if you are a newcomer to the subject? The most challenging part would be finding a good service provider; someone with expertise, backed up with years of experience on the market. There are thousands of such services on the web, but we recommend Software Submit.NET search engine submission services for website owners. While being an expert in software promotion, they also have a great range of services for website owners, you do not have to sell software applications to be able to benefit from their services.
Work by: praca

Hotshort